KRISIS GLOBAL 2012

Krisis Global 2012

Krisis global yang akan terjadi pada tahun 2012 memang berdampak buruk pada Negara yang sedang berkembang, termasuk Negara Indonesia. Bagi Indonesia, dilihat dari aspek produksi dan konsumsi dalam negeri, krisis politik di Timur Tengah berpotensi membuat kondisi energi kita makin kritis. Ini perlu diantisipasi secara serius,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Aspermigas) Effendi Siradjuddin, di Jakarta, Minggu (27/3).

Mengutip analisis pakar ekonomi dunia Nouril Roubini dalam World Economic Forum di Davos, Maret 2011, Effendi mengatakan, ancaman terbesar dunia saat ini adalah ketersediaan dan tingginya harga energi dan pangan. Ancaman tersebut berdampak pada potensi kerusuhan sosial yang pasif dan permanen akibat membengkaknya jumlah negara miskin. Jelasnya, kerawanan energi dan pangan akan menuju pada situasi kegagalan negara (failed state), bahkan merontokkan negara (collapsed state).

Effendi mengatakan, konsumsi minyak dunia pada 2010 sudah mencapai 2,7 juta barel per hari (ph). Angka tersebut cenderung bertambah 1,5 hingga 2 juta bph setiap tahun. Sedangkan produksi ekstra minyak dunia (spare capacity) diperkirakan nol pada 3 hingga 4 tahun mendatang. “Kondisi ini dipastikan berdampak pada kenaikan harga,” ujarnya.

Dalam 5-20 tahun ke depan, Effendi memperkirakan, konsumsi minyak dunia akan mencapai 120-130 juta bph, sedangkan tingkat produksi maksimal hanya 105-110 juta bph. “Artinya, kebutuhan energi dunia akan defisit 15-20 juta bph. Kondisi ini sangat mengerikan,” ujarnya.

Dalam sepuluh tahun mendatang, menurut dia, banyak negara eksportir minyak dunia akan berlomba memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya sendiri seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi di negaranya. Termasuk negara-negara OPEC. Memang betul ada produksi ekstra anggota OPEC 5,5 juta bph yang sekitar 3,5-4 juta bph-nya milik Arab Saudi.

Namun dengan terbatasnya cadangan minyak, defisit produksi dunia akan terjadi dan bermuara pada meningkatnya harga BBM dan ketersediaan energi.

Bisa jadi, meskipun sebuah negara punya banyak uang, namun tidak bisa membeli minyak. Ini karena memang tidak ada barang yang tersedia di pasar untuk dibeli,” tutur Effendi.

 

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=275495

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: